Payah Nak Cakap

Husnizar Hood

Kemarin saya dan kawan saya Mahmud berkesempatan terbang ke Jakarta, bukan ikut upacara 17 Agustus di istana negara, bukan, tapi kami ada undangan diajak baca puisi sempena hari kemerdekaan, ada juga kemarin coba dibuat di kampung kita ini, secara mandiri lumayan juga partisipasi seniman, mereka rela patungan, kata mereka “puisi tak boleh kalah dengan efisiensi”.

Sudah lama memang rasanya tak menginjakkan kaki di Ibu kota yang gemerlap dan mempesona itu.

“Jakarta masih ibu kota kita Tok?”, tanya Mahmud ia nampak pura-pura bodoh, saya hanya menjeling kepadanya saja, saya malas menjawabnya, nanti pasti akan ada pertanyaan lanjutan, misalnya bagaimana nasib IKN sekarang, apakah ada upacara 17 Agustus disana, dan siapa inspektur upacaranya.

Oh ya, kami berbincang tentang ibukota negara kita itu posisi kami masih di kantin bandara Tanjungpinang, pesawat kami belum terbang, kami hanya membayang-bayang saja tentang Jakarta, sambil merekam suasana lalu lalang di bandara Raja Haji Fisabilillah yang semakin hari semakin sepi, katanya bandara ini sekarang kembali berstatus internasional, dulu awal berdirinya memang berstatus internasional terus entah apa yang jadi penyebab tiba-tiba lenyap.

“Mungkin akan ada penerbangan yang akan membawa banyak tenaga kerja lagi dari luar negeri Tok”, ujar Mahmud sambil ia melihat jam tangannya kemudian dia melihat jam dinding yang ada di kantin itu sepertinya jarum jam itu tak bergerak, mungkin habis bateri mungkin juga rusak.

Waduh bagaimana bida di ruang publik seperti ini jam dinding tak boleh mati.

Saya dengan cepat menoleh ke arah Mahmud, saya pikir sekali ini kawan saya itu pikirannya jitu, akan ada serbuan tenaga kerja asing lagi yang akan masuk ke pulau ini atau tenaga asing yang pura-pura jadi wisatawan atau wisatawan asing yang sedang mencari pekerjaan.

Tapi kawan saya Mahmud nampak agak girang hatinya setelah ia mendengar suara perempuan operator di bandara itu yang menggunakan bahasa Melayu, ada pantunnya pula, lumayanlah dari pada tidak, karena kalau jadi bandara internasional maka bahasa melayu itupun go internasional juga, selidik punya selidik katanya biaya membuat operator perempuan berbahasa melayu itu tak sampai 5 juta rupiah. Ha??

Bandara tetangga-tetangga kitapun semuanya sudah go internasional dan operatornya berbahasa Melayu, di Pekanbaru sudah lebih lama kemudian menyusul di Batam, malahan di Batam kata “perhatian-perhatian” dalam bahasa Melayunya menjadi “dengar-dengar”, kata cuaca menjadi “pokok hari”. Luar biasa.

Ini bukan soal biaya tapi soal komitmen dan kreatifitas kita.

Sementara kita masih bertengkar bagaimana cara mencari pinjaman, berhutang ke bank, karena APBD masih dalam angan-angan, konon semua untuk alasan pembangunan.

“Boleh berhutang tapi selama priode dia memimpin saja Tok, jangan pulak nanti diwariskan ke penerusnya, siapa tahu saya yang terpilih, tak sualak saya menerima warisan hutang itu”, sergah Mahmud agak meradang dan setengah temberang.

“Untuk biaya mendirikan tugu bahasa Mud, itukan niat yang mulia, kita ini negeri asal muasal bahasa itu, supaya orang tahu bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu”, balas saya coba meyakinkan kawan baik saya itu.

Mahmud nampak dengan cepat mengangkat gelas kopi pahitnya, kopi kosong tak bergula, katanya kopi pahit itu lebih sehat.

“Tugu itu simbolis sebagai penanda, bahasa itu itu juga simbolis, juga penanda, karena itu Raja Ali Haji menulis, “Jika hendak mengenal orang berbangsa kenal pada budi dan bahasa”, lebih kepada budi yang diutamakan, alangkah lebih baik, ini menurut saya yang bodoh ini Tok, kalau kehidupan yang berbudi dan berdayalah yang lebih diutamakan, kehidupan budaya”, Mahmud mulai coba berfatwa.

Seberapa besar kegiatan budaya hidup semarak di Pulau Penyengat pada hari ini dibanding Tugu Bahasa itu kelak berdiri, seberapa besar orang tahu dunia tulis menulis yang pernah berjaya masih hidup di Pulau Penyengat hingga hari ini, itu yang menjadi pertanyaan besarnya.

Tapi apa yang dipikirkan kawan saya Mahmud itu takkan sama dengan apa yang dipikirkan oleh orang-orang hebat dan kuat itu, mereka adalah orang-orang pilihan yang dipilih oleh yang di atas dan juga dipih oleh yang dibawah, Mahmud itu siapa.

Kalaupun Mahmud kawan saya itu di kasi kesempatan dari orang biasa kemudian diberi kursi singgahsana, mungkin nasibnya seperti Wakil Menteri Tenaga Kerja kalau ditengok waktu dia sidak dan cara dia menggertak memang mengerikan tapi ternyata hilang mental preman kena operasi tangkap tangan.

Mendengar saya membandingkan dia dengan “si Noel” yang sedang ditoel KPK, Mahmud macam tersinggung, padahal saya hanya mencari perumpamaan saja, kita ini selalu merasa hebat sendiri dan apa yang kita buat itulah yang terbaik padahal belum tentu itu baik.

Contoh lagi, dulu ada seorang petinggi negeri ini di depan Mahmud dan kawan-kawan yang seniman, petinggi negeri itu bilang kita akan buat festival budaya Melayu se Asia Tenggara atau mungkin se dunia, mungkin ia sedang menyampaikan visi misinya di depan orang Melayu di negeri Melayu atau dia hendak memberi harapan kepada Mahmud dan kawan-kawan bahwa dia nampak seperti punya kepedulian.

Tapi Mahmud dengan enteng menjawab, kami sebenarnya tak butuh festival, yang kami perlukan kehidupan seni budaya itu hidup dan pelakunya bisa berkarya dan mereka bisa makan, karena festival itu sebuah apresiasi, sebuah penghargaan kalau engkau punya karya dan karya engkau hebat, maka engkau bisa ikut festival itu.

Tapi kalau kita buat festival di dalamnya ada pula lomba-lomba pula dan yang ikut lomba itu hanya 4 peserta artinya semua akan menang supaya semua senang sementara peminatnya sebenarnya tak ada, penonton juga sepi, dan kita ngotot merasa bahwa inilah yang terbaik selanjutnya terserah kepada masyarakat.

Halo, ketika kalian membawa sebuah identitas, disitulah ukuran pencapaian nilai-nilai yang kalian  hasilkan, karena festival itu bukan hanya soal kerja sewa menyewa sound, lampu, panggung dan tenda kursi juga konsumsi tapi seberapa tinggi apresiasi masyarakat dan seberapa jauh prestasi yang yang sudah tercatat.

“Ade Tok, kemarin kite tengok festival budaya, skalanya besar, biayanya apalagi, saking canggihnya digitalisasi pembaca doanya pun cukup audio saja sementara kita yang mengaminkan bersama pak Menteri”, Mahmud terkekeh-kekeh sendiri.

Saya tersenyum, teringat juga akan pawai budaya mereka yang gagal, bagaimana tidak begitu sampai di depan panggung utama peserta pawai tak bisa menampilkan atraksi katanya panas dan undangan sudak kesana kemari, sementara peserta pawai itu datang dari jauh, bahkan ada anak-anak yang sudah berlatih siang dan malam, hampir sama ya mungkin hampir sama dengan peserta drum band entah di kecamatan mana kejadian yang tak jadi tampil dan mereka menangis meraung merasa tak dihargai sebab panitia  memutar lagu “Selamat Ulang Tahun” untuk pak camatnya.

“Seni itu mudah dan indah, kalian saja yang merasa jumawa dan membuat dia menjadi payah, karena pikiran kalian mungkin sama dengan  Noel, merasa bisa dan ada kuasa,”serunya.

Mahmud, dia nampak memasang head set dan memejamkan matanya, lagunya Tabola Bale, kata Mahmud lagu ciptaanya sedang dibuat judulnya “Payah Nak Cakap” seperti stiker di toko cinderamata “Kepri Punya Cerita” di dalam bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang.

 

Oleh: Husnizar Hood